Friday, February 10, 2012

[FanFiction] Le Journal



Title : Le Journal
Author : Chrysalis
Cast(s) : SHINee (mainly Minho), OC
Length : Ficlet [699 words]
Genre : Fluff, AU
Rating : T
Beta-reader : Nymph
Disclaimer : I own the plot and OC.

Seorang pemuda dengan seragam barista melongok melalui dinding bening Coffee Shop tempatnya bekerja. Bel mungil yang menghiasi pintu kaca Coffee Shop berdenting beberapa kali, pelanggan dadakan yang diantarkan hujan menerobos ke dalam bangunan beraroma pekat kopi dan kayu manis itu. Tungkainya bergerak cepat menuju  meja di sudut ruangan yang baru dihuni seorang gadis dengan tubuh setengah basah. Gadis itu memesan secangkir Hot Cappucinno dan Blueberry waffle sambil menyandarkan mantel merah batanya di punggung kursi.

Setelah memastikan pesanan yang diterimanya ia segera menyibukkan diri di balik espresso machine. Tangannya dengan cekatan menuangkan plain milk di atas espresso sebelum membuat latte art sebagai sentuhan akhirnya. Ia mengantarkan Cappucinno dan Waffle yang ada di tangannya ke meja nomor lima; tempat gadis tadi. Gadis itu (\kini tidak sendiri, seorang pemuda berambut hitam pekat menemaninya. Gadis itu meminta secangkir Cappucinno lagi dan dua Original bun untuk temannya, Sang barista mengangguk sebelum kembali ke dapurnya.

"Hyeong." barista itu tersentak ketika salah satu rekannya menyenggolnya dengan sekeranjang kecil Original bun. "Apa yang sedang kau pikirkan? Espressomu bisa tumpah."

Choi Minho; sang barista, tergeragap dan mendapati cangkir yang digenggamnya oleng. Ia segera merampungkan pekerjaannya sebelum pelanggannya menunggu terlalu lama.

"Terima kasih," kata pemuda berambut hitam pekat itu ketika pesanannya datang.

Minho tersenyum hambar sambil mengerling pada gadis yang sedang menikmati waffle-nya. Ia segera beralih ke pelanggan lain sebelum perhatiannya benar-benar terbagi.

"Hyeong patah hati?" 

Minho tertawa kecil sambil mengekstrak bubuk kopinya. "Hmm, mungkin."

"Jeogiyo."

Sekali lagi Minho nyaris menggulingkan cangkirnya ketika mendengar suara gadis itu. Taemin; barista yang bercakap-cakap dengan Minho, segera menuju ke belakang meja kasir dan melayaninya. Minho merutuki kecerobohannya, ia bisa saja dipecat karena ulahnya. Wajahnya tertekuk ketika Taemin menyodok rusuknya. Detik berikutnya, lengkung sempurna tercetak di bibirnya ketika mendengar suara gadis tadi.

"Terima kasih, kopinya enak." 
Ia bergegas pergi setelah membayar pesanan milik temannya. Minho menatap punggung gadis itu hingga benar-benar hilang dari pandangannya.

"Ish, bagaimana mungkin seorang laki-laki membiarkan seorang gadis membayar untuk pesanannya," desis Minho. "tidak tahu malu."

"Ya! Hyeong, beraninya kau!"

Kim Jonghyun; barista yang keluar dari dapur dengan  tangan kanan yang menggenggam kain lap menatapnya bingung. Minho melirik meja nomor lima; mengklaim bahwa meja itu miliknya. Jonghyun meringis, beranjak menuju meja nomor sepuluh dan memulai tugasnya. Minho merebut kain lap yang digunakan Onew untuk membersihkan meja bar sebelum menuju meja yang gadis itu tinggalkan.

Matanya membulat ketika melihat agenda cokelat kayu di samping kursi yang diduduki gadis tadi. Ia meraih dan membukanya; semacam catatan kegiatan perkuliahannya. Minho mengulum senyum ketika melihat tulisan gadis itu dan segera menghapal celah-celah waktu yang memungkinkan gadis itu kembali ke Coffee Shop. Tangan kurang ajarnya dengan lancang membuka semacam dompet semi transparan yang melekat di belakang agenda itu. Struk-struk dari Coffee House; Coffee Shop tempatnya bekerja, terlipat rapi di dalam beserta selembar tisu dengan logo Coffee House. Ia juga menemukan karikatur dirinya di belakang salah satu lembaran struk dengan tulisan nuguya di bawah gambarnya, Minho segera bangkit dari posisinya dan . . .

DUKK!

Ia nyaris menjerit ketika lututnya membentur meja dengan keras. Nyaris semua yang berada dalam ruangan itu menatapnya, teman-temannya di belakang bar sudah terbahak melihat ekspresi Minho; campuran antara senang dan menahan sakit.
Minho berjalan tertatih menuju konter sambil membawa nampan dan 'harta karunnya'.

"Hyeong, itu milik gadismu?"
Minho mengangguk cepat, sebuah cengiran muncul di sudut bibirnya. "I'll grab her at eleven o'clock. This morning."

-.-.-.-

Pandangan Minho terpancang pada gadis mungil dengan ransel green army yang melambaikan tangan pada dua orang teman. Satu diantara mereka adalah pemuda berambut hitam yang tadi pagi berkunjung ke Coffee Shop. Jika tidak salah ingat, pemuda itu seorang asisten dosen yang membantu gadis itu menyelesaikan tugas kuliah.

Minho mendekati gadis yang masih asyik melambai hingga kedua temannya benar-benar menghilang dalam gedung perpustakaan.

"Hyewook-ssi ?" suara berat Minho membuat sang gadis terlonjak.

Gadis yang dipanggil Hyewook itu membulatkan mata. "Eh, kau barista di Coffee House, bukan?"

"Ya." Minho menyodorkan agenda milik gadis itu sambil tersenyum. "tertinggal tadi pagi. Beruntung aku menemukannya."

Hyewook menerima dengan wajah semerah goguma. "Terima kasih . . ."

Suaranya menggantung, gadis itu bingung karena Minho satu-satunya barista yang tidak pernah menyematkan name-tag di dadanya seperti barista lain ketika sedang bekerja.

"Minho." Minho mengulurkan tangannya, gadis itu menjabatnya dengan ragu. "namaku Choi Minho."


0 Coment:

Post a Comment

 

Only Minho Design by Insight © 2009